Aku teringat dengan sepenggal kallimat yang berbunyi, 'jangan berikan emas kepada babi'. Setelah kupikir2 benar juga. Kalo kita ngasih emas kepada babi paling-paling kita jadiin kalung, ato dikasi di jungurnya...ahahahah. Lucu juga babi pake anting-anting dan kerabu emas ya. Pernahkah kita berpikir disamping kita rugi, si babi juga ga merasa diberi sesuatu yang berharga?. Malahan dia akan mengotori emasnya dan tanpa sengaja akan menginjak-injak emas tersebut ketika jatuh kelantai. Karena dia ga ngerti sebenarnya betapa berharganya emas itu.
Demikian juga ketika ingin memberikan sesuatu yang berharga kepada orang lain. Walaupun anda berpikir hal itu sangat baik dan berguna belum tentu demikian bagi yang menerimanya. Dan banyak orang akhirnya berkata dan mengeluh begini, aku sudah memberikan ini. Aku sudah memberikan dia penghidupan, meminjamkan uangku untuknya,aku sudah banyak membantu pekerjaannya dan lain sebagainya. Tetapi apa yang dia lakukan terhadapku?. Betapa sering kita mendengar ucapan orang demikian.
Apa sebenarnya yang terjadi?
Anda salah sasaran dalam berbuat baik?
Apakah anda menginginkan sesuatu untuk berbuat baik?
Adakah anda ingin dipandang orang lain baik?
Atau mungkin anda berbuat baik untuk menutupi kejahatan atau kejelekan anda?
Terlepas apapun motivasi kita, yang terjadi adalah kita sering kali salah sasaran dalam berbuat baik. Hati-hatilah berbuat baik. Jangan sampai anda dirugikan. Kalo kita pengen ngasi sesuatu kepada orang lain, kita harus tanya dulu kebutuhannya apa, jangan kita sok tau. Apa yang dia ingin untuk kita berikan baginya. Sebisa mungkin jangan mengharapkan imbalan dari apa yang kita berikan. Supaya tidak terjadi penyesalan dikemudian hari.
Terakhir, aku punya cerita tentang seorang ibu yang sudah banyak membantu seorang tukang bangunan. Ibu ini sering berkunjung ke rumah si Tukang bangunan dan membelikan baju bagi anak2nya. Suatu kali si ibu ingin membangun rumah. Dia meminta si tukang membuatkan rumah baginya, karena pikirnya orang ini butuh bantuan keuangan. Jadilah si tukang bangunan ini mengerjakan proyek rumah tersebut. Dan selama pengerjaan rumah tersebut, situkang bangunan tinggal, makan dan tidur serumah dengan si ibu dan keluarganya. Keluarga si ibu ini juga sangat ramah dan baik kepada si tukang bangunan.
Namun kemudian apa yang terjadi?
Sepeninggal si tukang, rumah tangga si ibu hancur berantakan. Rupanya si tukang bangunan tersebut sudah menghamili anak perempuan si ibu. Dan hal itu menyisakan dendam dan aib bagi keluarga si ibu.
So, hati-hatilah berbuat baik...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar